Simulasi Antrian Kendaraan di Gerbang Tol Jakarta
Simulasi Antrian Kendaraan
di Gerbang Tol
Kondisi lalu lintas di
kota-kota besar Indonesia, terutama di Jakarta, telah begitu parah sehingga
kemacetan selalu terjadi setiap hari di seluruh bagian kota. Di pagi hari
kemacetan lalu lintas terjadi terutama di ruas-ruas jalan masuk menuju Jakarta.
Pada sore harinya, saat pulang kerja, kemacetan dilaporkan sering terjadi di
ruas-ruas jalan di pinggir kota yang menuju ke luar Jakarta. Sementara itu,
pada akhir pekan atau hari-hari libur, kemacetan muncul di ruas-ruas jalan yang
menjadi akses menuju pusat-pusat hiburan massal atau daerah peristirahatan. Kecenderungan
ini tampaknya akan terjadi dan menyebar ke berbagai daerah lain, sejalan dengan
perkembangan pembangunan fisik di seluruh wilayah Indonesia.
Kondisi lalu lintas yang
semrawut dan kemacetan yang parah ini telah menimbulkan berbagai dampak negatif
terhadap lingkungan dan manusia. Saat terjadi kemacetan pada umumnya kendaraan
hanya dapat merambat maju ke depan dengan kecepatan rendah, sehingga gas buang
yang ditimbulkan pada suatu saat di daerah tertentu dapat menyebabkan pencemaran
udara yang parah. Selain itu kebisingan yang terjadi saat kondisi macet pun
dapat menjadi sumber pencemaran lingkungan yang serius. Dapat dipahami apabila
kondisi yang tidak nyaman ini dapat meningkatkan stress baik bagi pengguna
jalan maupun bagi penduduk di sekitarnya. Dalam jangka panjang, kemacetan lalu
lintas ini dapat menyebabkan penurunan produktifitas kerja di semua sektor
kehidupan masyarakat.
Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kelancaran lalu lintas di jalan raya. Yang pertama adalah kondisi
jalan raya itu sendiri. Jalan raya yang rusak atau terlalu sempit dapat
menimbulkan kemacetan lalu lintas. Selain itu, arus masuk dan keluar kendaraan
yang melebihi kapasitas jalan raya pun dapat menjadi penyebab kemacetan. Tidak
kalah pentingnya adalah perilaku pengguna jalan saat berlalu lintas. Faktor
lainnya adalah rambu-rambu lalu lintas yang sering membingungkan pelaku lalu
lintas di jalanan.
Dengan mengambil contoh kasus antrian kendaraan yang terjadi di gerbang
tol, penulis telah membuat model situasi lalu lintas yang berbasis pada arus
masuk dan arus keluar kendaraan. Model antrian ini telah diimplementasikan ke
dalam sebuah program komputer, dan cukup fleksibel sehingga dapat diterapkan
untuk berbagai problem antrian, seperti antrian di bank dan antrian di
kasir-kasir toko. Dengan program aplikasi ini kita dapat membuat simulasi arus
kendaraan di gerbang tol. Analisa-analisa sederhana mengenai
berbagai kondisi arus kendaraan pun dapat dikerjakan dengan program ini.
- Golongan Kendaraan di Jalan TolJenis kendaraan yang diperbolehkan memasuki jalan tol menurut Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No 370/KPTS/M/2007 tentang Penetapan Golongan Jenis Kendaraan Bermotor Pada Ruas Jalan Tol Yang Sudah Beroperasi Dan Besarnya Tarif Tol Pada Beberapa Ruas Jalan Tol
Golongan I
Sedan, Jip, Pick Up/Truk Kecil, dan Bus
Golongan II
Truk dengan 2 (dua) gandar
Golongan III
Truk dengan 3 (tiga) gandar
Golongan IV
Truk dengan 4 (empat) gandar
Golongan V
Truk dengan 5 (lima) gandar atau lebih
- Model Antrian
Dalam bentuknya yang
mendasar suatu sistem antrian dapat digambarkan dengan sebuah model yang
terdiri dari komponen antrian dan komponen pemroses [Wal91, Dai92]. Untuk kasus
antrian di gerbang tol, panjang komponen antrian ditentukan oleh berbagai
faktor seperti kondisi fisik jalan raya, kondisi fisik kendaraan, perilaku
pengguna jalan raya dan arus kendaraan di jalan tol. Kondisi jalan raya yang
buruk atau penyempitan jalan dapat menimbulkan antrian yang panjang. Kelayakan
kendaraan juga sangat mempengaruhi situasi antrian, misalnya: mobil tua yang
sudah tidak layak pakai dapat memperlambat arus kendaraan apabila tetap
dipaksakan untuk digunakan di jalan tol. Perilaku pengemudi yang kurang
mentaati peraturan berlalu-lintas di jalan tol jugadapat memperlambat arus
kendaraan. Bahkan, tidak jarang kebiasaan para pengemudi yang jelek ini dapat
menyebabkan kemacetan total pada saat terjadi kecelakaan.
Komponen pemroses
berfungsi menentukan cepat lambatnya sebuah kendaraan masuk ke dalam atau
keluar dari antrian. Dalam kasus antrian di gerbang tol kecepatan pemrosesan
ini sangat dipengaruhi oleh kecekatan petugas melayani transaksi pembayaran
tol, kecepatan mesin/hardware pemroses dan kehandalan software yang mendukung
proses di gerbang tol.
Gambar 1: Model antrian
kendaraan di gerbang tol
Dalam implementasinya ke
dalam program software, sifat-sifat kedua komponen antrian terutama ditentukan
oleh dua parameter berikut: panjang (kapasitas) antrian ldan waktu pemrosesan
t. Selain kedua faktor ldan t, arus kendaraan yang menjadi indikator kemacetan
lalu lintas ditentukan pula oleh jumlah jalur msebelum gerbang tol, jumlah
gerbang tol gdan jumlah jalur nsesudah gerbang tol [Lie97]. Dalam gambar 1
ditampilkan sebuah sistem antrian di gerbangtol yang terdiri dari jalur m = 1,
n = 1dan g = 3.3
- Algoritma dan Simulasi
Struktur data simulasi
dapat diturunkan dari model yang telah disepakati di atas (gambar 1). Dengan
menentukan parameter-parameter l, t, m, n, dan gkita dapat membuat model suatu
sistem antrian di gerbang tol.
Gambar 2: Alur diagram
untuk antrian di depan gerbang tol
Dalam sistem pemrograman berorientasi object hal ini dapat
diimplementasikan dengan membuat sebuah object konektor yang sesuai.Untuk menyusun algoritma
yang dapat menggambarkan kondisi di jalan tol, sistem antrian di atas perlu
dibagi-bagi menjadi komponen dasar yang lebih kecil, seperti yang diuraikan di
bawah ini.
Queing A (antrian di depan
gerbang tol):
Kondisi jalan di tol
terdiri dari beberapa jalur. Situasi ini disederhanakan dan disimbolkan dengan
satu jalur antrian.
Process B (komponen
pemroses di depan gerbang tol):
Dalam fase ini pengemudi mulai menentukan
pilihannya untuk masuk ke salah satu gerbang tol yang tersedia.
Queing C (antrian di dalam
gerbang tol):
Antrian kendaraan di
depan masing-masing gerbang masuk tol.
Process D (komponen
pemroses di dalam gerbang tol):
Pengambilan tiket atau
pembayaran ongkos tol.
Queing E (antrian di
belakang gerbang tol):
Kondisi normal di jalan
tol yang terdiri dari beberapa jalur.
Setelah pembagian ke
dalam komponen yang lebih kecil, proses yang terjadi di setiap komponen
tersebut masih perlu dirinci lagi. Misalnya saja, untuk antiran A (queing A) di
depan gerbang tol, proses kerja yang harus dilakukan oleh simulator adalah
sebagai berikut.
Queing A:
1.Jika antrian tidak
kosong, maka kendaraan menempati status “antri/tunggu”
2.Jika antrian kosong,
maka kendaraan“masuk Process B”
A.1. “Antri/tunggu”:
1.Jika antrian tidak
kosong, maka kendaraan harus menunggu di belakang kendaraan lain yang
sebelumnya juga sedang menunggu. Lakukan “action A”
2.Jika antrian kosong,
maka tunggu/diam di antrian paling depan. Lakukan “action
A”“Action A”:
·Tentukan posisi
kendaraan di dalam antrian
·Gambar 1 kotak di
posisi tersebut
·Warnai kotak
dengan merah
A.2. “Masuk Process B”
1.Jika process tidak
kosong, maka kembali ke “antri/tunggu”
2.Jika process sedang
kosong, maka “diam sejenak”. Lakukan “Process B”
Begitu seterusnya, hingga
akhirnya semua entity model berhasil dirinci menjadi proses-proses yang cukup
sederhana untuk diterjemahkan ke dalam kode program/software.
Pada dasarnya, dengan
menyediakan struktur data dan algoritma yang pas kita telah dapat membuat
simulasi antrian kendaraan di gerbang tol. Namun untuk lebih memudahkan pengoperasiannya
kita masih harus merancang ‘user interface’ program simulasi ini [Kra98]. Dalam
makalah ini topik ini tidak akan dibahas lebih jauh lagi karena sudah berada di
luar konteks pembicaraan.
- Diskusi
Pemodelan antrian yang
terdiri dari beberapa komponen dihubungkan satu sama dengan garis-garis
konektor, seperti ditampilkan dalam gambar 3. Semua garis konektor yang mungkin
menghubungkan komponen didepan (before), di dalam (within) dan di belakang
(after) gerbang tol ditampilkan dengan garis warna hijau.
Gambar 3: Garis-garis
konektor yang menghubungkan setiap komponen antrian di depan, di dalamdan di
belakangpintu gerbang tol
Sebuah simulasi sistem
antrian 2,4,2 (terdiri dari antrian 2 jalur di depan gerbang tol, 4 gerbang tol
aktif dan antrian 2 jalur di belakang gerbang tol) ditampilkan dalam gambar 4.
Kedua garis biru adalah dua konektor yang menggambarkan peralihan arus
kendaraan dari antrian di depan gerbang tol ke dalam antrian di gerbang tol.
Angka-angka hitam di bawah setia.
Gambar 4: Simulasi sistem
antrian gerbang tol 2,4,2
Dalam simulasi sederhana
ini hanya arus kendaraan yang menjadi fokus pembicaraan. Arus kendaraan
terutama ditentukan oleh waktu pemrosesan di gerbang tol dan rasio jumlah jalur
di depan gerbang tol dan jumlah gerbang yang aktif. Hasil simulasi menunjukkan
bahwa panjang antrian yang kita inginkan sangat ditentukan oleh arus kendaraan
yang telah didefinisikan sebelumnya (parameter t, mdan g).
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang jalan
tol pada pasal 5 jalan tol mempunyai syarat teknis yaitu:
1. Jalan tol mempunyai tingkat pelayanan keamanan dan
kenyamanan yang lebih tinggi dari jalan umum yang ada dan dapat melayani arus
lalu lintas jarak jauh dengan mobilitas tinggi.
2. Jalan tol yang digunakan untuk lalu lintas
antarkota didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 80 (delapan
puluh) kilometer per jam, dan untuk jalan tol di wilayah perkotaan didesain
dengan kecepatan rencana paling rendah 60 (enam puluh) kilometer per jam.
3. Jalan tol didesain untuk mampu menahan muatan sumbu
terberat (MST) paling rendah 8 (delapan) ton.
4. Setiap ruas jalan tol harus dilakukan pemagaran,
dan dilengkapi dengan fasilitas penyeberangan jalan dalam bentuk jembatan atau
terowongan.
5. Pada tempat-tempat yang dapat membahayakan pengguna
jalan tol, harus diberi bangunan pengaman yang mempunyai kekuatan dan struktur
yang dapat menyerap energi benturan kendaraan.
6. Setiap jalan tol wajib dilengkapi dengan aturan
perintah dan larangan yang dinyatakan dengan rambu lalu lintas, marka jalan,
dan/atau alat pemberi isyarat lalu lintas.
7. Ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan
lalu lintas dan angkutan jalan. 8. Ketentuan persyaratan teknik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diatur lebih
lanjut peraturan Menteri.
- Golongan Kendaraan di Jalan Tol
Jenis kendaraan yang diperbolehkan
memasuki jalan tol menurut Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No 370/KPTS/M/2007
tentang Penetapan Golongan Jenis Kendaraan Bermotor Pada Ruas Jalan Tol Yang
Sudah Beroperasi Dan Besarnya Tarif Tol Pada Beberapa Ruas Jalan Tol
- Golongan I Sedan, Jip, Pick Up/Truk Kecil, dan Bus
- Golongan II Truk dengan 2 (dua) gandar
- Golongan III Truk dengan 3 (tiga) gandar
- Golongan IV Truk dengan 4 (empat) gandar
- Golongan V Truk dengan 5 (lima) gandar atau lebih.
Komentar
Posting Komentar